“Mahasiswa dan Moralitas”

Dalam catatan sejarah manapun telah terbukti bahwa mahasiswalah yang menjadi mainstream sekaligus katalisator dalam melakukan gerakan-gerakan untuk meraih kehidupan era baru. Kehidupan yang bersih. Bersih dari tangan yang tidak berhak memegang tampuk kekuasaan, bersih dari pikiran yang tidak berhak dalam membuat sebuah kebijakan dan intinya dapat mengembalikan kehidupan masyarakat yang selama ini telah tergilas dan tertindas oleh rezim dzalim untuk mewujudkan cita-cita bersama yang tergabung dalam kata “Pencerahan dan Perubahan!!!

Walau usaha dalam meraih cita-cita tersebut tidak senatiasa berhasil sesuai dengan grand design yang telah dirancang dan tidak selalu berakhir dengan kemenangan, akan tetapi semagat pengorbanan tidak pernah lepas dari pundak-pundaknya karena mereka yakin bahwa awal kemenangan adalah disaat kita mampu untuk memulai mengerjakan agenda kemenangan tersebut. Selanjutnya mereka akan selalu berusaha mengalirkan semangat perjuangannya dalam setiap aliran darah dan denyut jantung para generasi penerus seperti apa yang pernah diungkapkan oleh salah satu tokoh penggerak perlawanan rakyat, Bung Tomo. Beliau mengatakan bahwa “perjuangan tidak memiliki arti bila tidak ada generasi penerus yang memiliki jiwa patriot”. Generasi baru inilah yang nantinya menjadi harapan dalam melanjutkan estafet perjuangan sampai akhirnya kemenangan itu diraih dan masyarakat dapat merasakan manisnya kehidupan ini.

Legenda perjuangan mahasiswa di Republik ini sendiri telah memberikan bukti yang cukup significant dalam rangka melakukan agenda perubahan tersebut. Tinta emas sejarahnya dapat kita lihat dengan hadirnya berbagai angkatan, seperti ‘08…’28…’45…’66…’74 yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri akan tetapi kita percaya kesemuanya itu tetap berada pada kontek kepentingan wong cilik bukan wong licik! Dan terakhir, kita menyaksikan sendiri hadirnya sebuah element ’98 yang telah ‘berhasil’ menurunkan Soeharto dari tampuk kekuasaannya yang selanjutnya menelurkan visi reformasi yang sampai pada detik ini masih dipertanyakan keberhasilannya serta upaya menuju keberhasilan tersebut.

Dengan demikian adalah sebuah keharusan bagi kita semua untuk menjadi pelopor dalam melakukan fungsi kontrol terhadap jalannya roda pemerintahan sekarang. Bukan malah sebaliknya. Walau tidak bisa dipungkiri, kita tidak bisa menafikan bahwa masih ada kaum mahasiswa yang hari ini telah terjebak dengan kenikmatan sesaat yang pada intinya telah menjadikan idealisme dan independensinya sebagai mahar untuk ‘kenikmatan’ yang ia dapatkan tersebut. Sehingga wajar saja kalau masyarakat hari ini masih dan selalu meragukan apa yang dikibar-kibarkan dan dikoar-koarkan sang mahasiswa…kalaupun ada aksi, jangan- jangan aksinya hanya sekedar cari nama atau formaslitas kegiatan, atau dibayar???…Kalaupun ada hearing, jangan-jangan ada udang di balik amplop???…jangan-jangan…jangan-jangan…dan inilah konsekuensinya disaat social trust masyarakat telah pudar terhadap realita yang ada pada pergerakan mahasiswa detik ini.

Dan untuk yang masih berdiri disini. Yang masih bisa bertahan dengan idealismenya, Bertahanlah…!!! Inilah yang harus dipertahankan, perjuangan memang membutuhkan pengorbanan dan perlu kesabaran dalam merealisasikannya.

Agenda reformasi adalah tanggung jawab kita semua. Tanggung jawab kita yang masih terpanggil dengan nama kaum intelektual, kaum yang kritis dan memiliki semangat yang kuat. Dan tanggung jawab ini hanya dimilki oleh rasa sosial yang tinggi. Bukan orang-orang kerdil yang hanya memikirkan perut dan golongannya serta tidak memiliki rasa tanggung jawab. Hanya lobang-lobang kematianlah yang menjadikan mereka untuk berpikir betanggung jawab. Jangan pikirkan mereka….!!!
Mari pikirkan solusi untuk menghibur Ibu Pertiwi yang selalu menangis dengan ulah anak bangsanya sendiri.

So, Menurut saya nich…
Ada sebuah langkah bagi kita sebelum berbicara dan bergerak lebih jauh dalam melakukan agenda perubahan agar kisah sedih reformasi yang sering ‘dirayakan’ tiap tahunnya tidak menjadi berjilid-jilid. Langkah utama itu adalah Membangun Moralitas Pergerakan. Berbicara moralitas berarti kita bicara keyakinan yang kita miliki karena moralitas lahir atas dasar kesadaran dan keyakinan memahami ‘nilai-nilai langit’…yang bukan sekedar untuk dipahami dan diyakini… Akan tetapi mampu untuk diejawantahkan dalam setiap gerak langkah dan desah nafas perjuangan.

Contoh konkretnya dapat kita lihat potret kehidupan para pahlawan yang terlebih dahulu merasakan pahit dan getirnya perjuangan. Panglima Soedirman adalah sosoknya. Ia merupakan sosok yang selalu ditakuti lawan dan segani kawan. Ini adalah efek dari seorang Soedirman yang selalu melakukan aksi-aksi perlawanannya selalu tetap dengan mengedepankan moralitas sehingga setiap kata dan perbuatannya hanya memang untuk rakyat dan bangsa tercinta. Bukan demi kepentingan pribadi, apalagi niat untuk mejadi Pahlawan-pun tidak terlintas dipikirannya. Akan tetapi setelah Ia menutup sejarah hidupnya…Ia dikenal dan akhirnya Nama Beliau tercatat dalam sejarah rakyat Indonesia sebagai Pahlawan Bangsa. Subhanallah…

Tanpa bermaksud men-generalisasikan, hari ini faktanya berbicara lain. Bukan sebuah hipotesa lagi bahwa perjuangan mahasiswa hari ini hanya sebatas retorika dan lintasan pemikiran yang dikeluarkan dari mulutnya. Bicaranya hanya ingin dikatakan cerdas, hanya itu! Gaya bicaranya hanya permainan kata-kata namun miskin dan kering makna. Suaranya yang lantang bukan dikeluarkan dari hati, apalagi dilandasi dengan moralitas. Makanya, wajar saja jika mahasiswa hari ini telah kehilangan identitas diri sejatinya. Mahasiswa busuk seperti akan berlanjut karirnya menjadi politis busuk yang menentukan pilihan politiknya secara irasional dan hawa nafsu. Intelektual yang dimiliki, kekritisan, dan rasa kepedulian…semua melebur menjadi satu dan menguap hanya dengan kenikmatan fatamorgana yang dijanjikan. Bahkan ironinya, mereka akan melakukan proses regenerasi demi menyelamtakan ‘pejuangannya’…

Nah, apakah budaya ini akan terus dipertahankan?

Jawablah wahai mahasiswa!!!
Jika jawabannya Ya, maka pertanyakanlah kembali moralitas dan kebersihan hati nuranimu…dan selanjutnya persiapkanlah keranda untuk mengubur mimpi reformasi itu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: